Jenjang Baru

Tulisan kali ini, hm apa ya.. ini khusus untuk menceritakan pengalamanku yang nanti akan aku tulis di bawah. Tolong jangan protes jika aku alay (aku memang alay), lebay, atau apalah itu, oke? 😛

Sekarang, bagi yang memang berminat membaca cerita ini… oke, aku mulai ceritanya.

Sedikit nggak nyadar, sekarang aku sudah SMA, sudah jadi MUBA (ceritanya istilah kayak MABA).

Waktu nunggu hasil pengumuman PPDB online, rasanya kayak nunggu hasil UN. Perut mulas terus-terusan (tapi bukan pingin itu ya), gak bisa tidur, dan mulut berkomat-kamit terus kayak dukun supaya diterima di sekolah pilihan pertama dan kedua. Sebenarnya gak adil sih ya, milih tiga sekolah tapi malah doain yang pilihan pertama dan kedua saja. Yang ada di pikiranku sih pilihan ketiga adalah pilihan yang ada di ujung tanduk (walaupun masih ada sekolah swasta yang merupakan jalan terakhir). Pikiranku aneh ya? Ya namanya juga manusia pasti milih yang lebih bagus.

Sambil menunggu waktu untuk melihat hasil seleksi di situs resmi PPDB online Denpasar, aku memilih untuk tidur karena di web tersebut tertulis bahwa hasil seleksi baru dapat dilihat pukul delapan pagi. Beberapa jam tidur, aku sempat terbangun dan waktu itu kira-kira pukul tiga pagi. Aku mengambil HP Android jadulku (masih Gingerbread) yang sudah lama nggak diganti-ganti lalu connect ke WiFi.

Dan apa yang terjadi? HP sempat ngadet karena banyaknya RU yang muncul, nyampe seratusan kalo gak salah. Dan tema RU kali ini adalah PPDB. Aku sedikit curiga, dari mana mereka mengetahui hasilnya? Bukannya belum pukul delapan? Karena BBM sedikit lag maka aku menutup aplikasi itu dan memilih untuk membuka Instagram. Ketika aku merasa BBM sudah mulai normal kembali, aku membukanya dan melihat beberapa BC yang isinya tentang promosi PIN orang-orang. Pft. Eits, tapi ada BBM dari temanku, Pipit namanya. Kira-kira dia bilang gini:

We, anak (nama sekolah)!

Jujur, aku kaget sampai gak sempat balas BBM-nya. Aku keluar dari kamar dan di ruang tamu gelap banget karena semua orang lagi pada tidur. Karena penasaran, akhirnya aku menyalakan laptop di ruangan yang sunyi nan gelap itu. Waktu itu tumben webnya nggak lelet, mungkin orang-orang sudah tidur makanya sedikit yang buka web ini. Setelah memasukkan nomor peserta, ternyata benar.. aku diterima di sekolah yang disebutkan oleh Pipit, sekolah pada pilihan ketiga.

Aku melihat-lihat NEM terendah yang diterima di tiap sekolah, dan apa kalian tahu? NEM-ku sebenarnya keterima di sekolah pilihan kedua. Waktu itu perasaanku campur aduk dan perutku kembali mulas. Aku kembali mengecek NEM orang-orang yang diterima di pilihan kedua itu. Wajar saja karena ternyata aku kalah dengan 10 orang karena nilai Bahasa Inggrisku yang kecil. Bisa lah memakluminya.

Sampai akhirnya, aku tertarik untuk melihat profil orang yang ada di urutan ke-318, beruntung banget orang itu. Dan saat itulah aku melihat nilai-nilainya yang sama persis denganku, dari Matematika, IPA, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris, nggak ada bedanya sama sekali! Aku semakin berpikir orang ini benar-benar beruntung. Terlalu bejo jadi orang. Aku curiga aku kalah usia darinya.

DAN TERNYATA DUGAANKU BENAR! Yap, dia lahir Januari 1999. Sakitnya tuh di ❤ bro!!!!!!! Beda 4 bulan, coeg!

Oke lupakan hal itu, sekarang aku jadi mengingat tragedi kelam itu. Aku harus move on dan memulai hidup baru dengan sekolah baruku.

Selama MOS berlangsung, aku menghadapi suka-duka bersama Kelompok  2 / Kelompok Kicaka / Kelompok Merah. Gak tahu Kicaka? Sama, aku juga waktu itu gak tahu apa itu Kicaka. Ternyata itu adalah sebuah nama tokoh pewayangan.

Pra MOS – Sabtu, 12 Juli 2014

Aku sampai di sekolah pukul 05:30. Ini nih resikonya, rumah jauh di sana eh malah dapet sekolah di ujung sana. Kalau dalam bahasa Bali sih istilahnya joh-joh gumi. 😦

Karena aku gak pakai jam tangan dan gak tahu kalau sudah jam 6, aku ikut lari-larian karena banyak orang lari ke halaman depan. Di sana sudah ada kakak-kakak yang teriak-teriak dan orang-orang sudah berbaris. Aku bingung di mana kelompokku berbaris karena waktu itu masih gelap dan tulisan nama kelompoknya gak kelihatan.

Akhirnya aku SKSD tanya sana-sini ke teman yang lain (aku memilih bertanya sama teman daripada sama kakak-kakak itu) dan akhirnya ketemu lalu aku berbaris dengan tenang. Saat aku berbaris, masih banyak anak-anak yang lari-lari kebingungan mencari kelompoknya. Saat salah satu anak bertanya kepada kakak yang mengenakan baju lengan panjang perpaduan abu-abu dan hitam itu, kakak itu berteriak, “CARI SENDIRI!” lalu banyak teriak-teriakan yang muncul seperti: “WOI, BISA LARI KAN KAMU! UDAH TELAT, JALAN LAGI!”

Setelah berbaris dengan rapi, kami semua disuruh mendengarkan kakak yang berdiri di depan menyebutkan semua nama yang ikut MOS. Kuulangi ya, semua nama. 391 anak. Sigh, males banget.

Setelah semua nama dipanggil, acara selanjutnya adalah pengenalan pendamping kelompok. Saat pendamping kelompok Kicaka dipanggil, dua orang kakak (cowok-cewek) berjalan kayak robot menuju barisanku. Mereka berdua berdirinya tegap banget, dan aku hampir saja ketawa melihat ekspresi mereka sebelum melihat mata kakak cowok yang tertutupi topi itu melotot. Jujur, itu agak seram.

Singkat cerita, mereka memperkenalkan diri dengan suara yang lantang. Kami semua wajib memanggilnya dengan sebutan ‘tor’ diikuti dengan namanya. Dan nama mereka adalah Tor K dan Tor A.

Tor K : cowok
Tor A : cewek

Setelah disebutkan atribut apa saja yang harus dibawa saat MOS, akhirnya kami pulang ke rumah masing-masing.

MOS #1 – Senin, 14 Juli 2014

“UNTUK KELOMPOK KICAKA! BARIS TIGA BERBANJAR DEPAN SAYA SATU, DUA, TIGA, EMPAT, LIMA…”

Semua anak-anak MOS berlari kesetanan mencari barisan, tanpa terkecuali aku. Aku berbaris di depan cewek tinggi, dan aku gak tahu namanya siapa.

“BAGI YANG PUTRA BERBARIS DI BELAKANG, DAN PUTRI YANG MERASA PENDEK BERBARIS DI DEPAN!” Cepat-cepat aku bertukar barisan dengan teman satu kelompok yang tinggi. Oke oke, aku memang pendek kan?

“Hadap serong kiri, gerak!” kami semua mengikuti perintah tor itu. “MEMBUNGKUK KALIAN SEMUA! LEPAS TOPI CAPIL KALIAN!”

“LIPAT CELANA KALIAN SAMPAI DI ATAS LUTUT!” lalu lampu senter di mana-mana. Untung kaos kakiku panjang kayak pemain sepak bola, jadi aku merasa tenang. Sampai akhirnya….

“PUTRI! KENAPA NAMA DADA KAMU TIDAK DIIKATKAN DIPINGGANG?!” dan aku pun melongo melihat Tor A melotot kepadaku. Aku menyapu pandanganku ke orang di depanku. Nama dadanya juga salah.

“BUKANNYA SAYA SUDAH BILANG NAMA DADA DIIKATKAN DI PINGGANG?!”

Diam. Tidak ada yang menjawab.

Lirikan mata Tor A semakin tajam, dan dia berkata dengan suara mendesis tapi tetap keras, (apa maksudmu, Prem?) “Saya tidak mau tahu, besok nama dada kalian harus sudah benar.”

“Siap!” Akhirnya setelah beberapa lama bungkam, kami semua menjawab secara serempak.

Tor A berjalan dengan tegap menjauhi barisan putri menuju ke belakang (barisan putra). Aku sedikit lega karena terhindar dari pandangan mata yang menusuk dari Tor A. Seolah belum diberi ketenangan yang cukup, Tor K berdiri di dekat barisan putri menggantikan Tor A. Oh Tuhan, melotot di mana-mana.

“PUTRA, KENAPA KAMU BARU DATANG?” Teriakan dari Tor A (akhirnya) kembali terdengar, padahal belum ada lima menit beristirahat untuk nggak teriak.

“Maaf, Kak,” seorang cowok tergesa-gesa berlari menuju barisan paling belakang sambil memakai topi capilnya.

“KAK KAMU BILANG PUTRA?!?!”

“Eh, Tor,”

Jumping jack lima kali kamu, Putra!”

Aku bergidik, untungnya aku gak telat. Dan gak akan pernah telat! (janji anak MOS)

Di awal-awal upacara pembukaan MOS, tiba-tiba hujan deras dan kami semua panik. “UNTUK KELOMPOK KICAKA, PEGANG PUNDAK TEMAN DEPAN KALIAN. Putri, ikuti saya.” lalu Tor mulai mengibarkan bendera kecil berwarna merah sambil berjalan.

Setelah upacara bendera di aula, dengerin ceramah, dan makan nasi dengan tangan tanpa cuci tangan dalam waktu lima menit (uh), akhirnya kami dipulangkan. Dan pikiranku melayang memikirkan tugas yang diberikan, terutama harus nyari warna kertas asturo merah untuk kartu kontrolku yang salah.

MOS #2 – Selasa, 15 Juli 2014

MOS kali ini aku (masih) tidak terlambat. Keren kan? Iya lah, orang dari rumah berangkatnya jam 5 :v

Nama dada sudah semua benar dan rasanya tenang. Penugasannya juga masih gampang, jadi nggak ada yang salah. Kali ini kami makan dibolehkan membersihkan tangan dengan tisu basah oleh Panitia. Akhirnyaaaa!

E tapi…

Kartu kontrol…

Warna kertasnya masih salah.

MOS #3 – Rabu, 16 Juli 2014

“WOI, JAM BERAPA NI!” teriakan itu yang keluar dari mulut para Tor di tiap kelompok. Memang, masih banyak yang terlambat dan alasannya hanya mereka yang tahu. “HARI KE BERAPA INI, WE!!” Panitia pun ikut berteriak.

Setelah semua berbaris rapi, seperti biasa Tor K teriak: “MEMBUNGKUK KALIAN SEMUA! LIPAT CELANA KALIAN SAMPAI DI ATAS LUTUT, LEPAS TOPI CAPIL KALIAN!”

Tumbennya kali ini agak lama, aku capek bungkuk terus, Tor. :’)

“Capek kamu, Putri?!” Aku menoleh dan melihat Tor A melotot kepadaku. Eh, emangnya mukaku gimana sih? Kelihatan ya kalo aku capek? ‘-‘

“Nggak..” Aku menjawab sambil menggeleng pelan dengan muka datar nan kolotku. Tor A berlalu dan berjalan pelan-pelan ke sampingku lalu berhenti di depan temanku.

“PUTRI! KENAPA KAMU MENULISNYA DENGAN TINTA SILVER? LIHAT TEMAN DI SAMPINGMU! APA SAYA PERNAH BILANG PAKAI TINTA SILVER?”

Temanku hanya menggeleng-geleng. Yang aku ingat, dia dibentak habis-habisan sama Tor. Dan beberapa saat kemudian, Tor berteriak, “NANGIS KAMU PUTRI?” dan bisa kulihat punggung temanku naik turun, dia sesenggukan. Karena diketahui ada keributan di kelompokku, seorang panitia datang menghampiri Tor A.

“Kenapa ini, Tor?”

Dan Tor tidak menjawab, dia hanya memandang temanku itu. Panitia melihat nama dada temanku itu dan tertawa kecil. “Kok nangis? Udah, udah, jangan nangis. Nggak punya teman kamu di sini? Kenapa nggak nanya ke teman?”

Temenku gak bisa menjawab karena dia menangis terus-terusan.

“CENGENG SEKALI KAMU PUTRI. TERUS SAJA KAMU MENANGIS PUTRI!”

“Udah, udah. Kasihan dia, Tor, gak punya temen.” singkat cerita, temanku diajak entah ke mana oleh Panitia.

Setelah itu kami semua naik ke aula untuk mendengarkan ceramah. Kadang dengerin ceramah itu enak kalau narasumbernya asyik dan nggak ngebosenin. Nggak enaknya adalah kalau materinya ngebosenin, terus cara bicara narasumbernya nggak menarik perhatian. Capek juga sebenarnya duduk berjam-jam, makanya kami diberi waktu beberapa menit untuk meluruskan kaki. Kalau dipikir-pikir, kami yang duduk aja capek, gimana tor-nya? Mereka berdiri mengawasi kami, nggak boleh duduk sama sekali, nggak boleh senyum, nggak boleh ketawa, dan itu pasti capek banget.

Oh ya, di hari ketiga ini kami semua dikerjain! Pertamanya kami disuruh tidur pejamkan mata. Dan tumbennya, tidurnya agak lama dari biasanya. Setelah waktu tidur yang diberikan sudah selesai, kita diberi waktu untuk dinamika kelompok. Kami akhirnya terlarut dalam pembuatan yel-yel, tepuk kelompok, dan lain-lain.

Sampai akhirnya…

Duk! Tempat botol Fruit Tea dilempar oleh seseorang, dan ternyata itu adalah Pak Satpam berkumis tebal yang sering berjaga di depan sekolah.

“ADA YANG BAWA NARKOBA DI SINI, POLISI DI LUAR!” Satpam itu berteriak. Kami semua hanya melongo. Drama apa lagi ini..

“BUKA TAS KALIAN!!” para tor mulai berteriak kepada kami. Bodohnya, aku hanya membuka tasku (tidak mengeluarkan isinya). Dan bodohnya, Tor A ada di depanku. Lalu dia melotot dan berteriak. “PUTRI!” dan bres, tasku diambil lalu dilempar semua isinya. Aku hanya bengong waktu itu. Mungkin eskpresiku kayak orang kolot lihatin Tor ngelempar barang-barangku ke bawah.

Setelah mengeluarkan isi tasku, Tor menyapu pandangan ke seluruh anak kelompokku. “KELUARKAN ISI TAS KALIAN!!!” dan mereka mengeluarkan isi tas mereka dengan panik.

“BARU HARI KETIGA INI WE! NGAPAIN BAWA ROKOK!” teriak salah satu panitia.

“WE, SAYA SUDAH 3 TAHUN DI SINI. KALIAN MEMBUAT NAMA SEKOLAH HANCUR AJA YA!!”

Dan di atas panggung aula, kulihat 3 cewek dikelilingi panitia. Satu di antara mereka yang berdiri di tengah-tengah berteriak-teriak kepada panitia. “Tapi saya nggak ada bawa!”

“APA NGGAK ADA BAWA! ADA DI TAS KAMU!”

“TAPI SAYA NGGAK ADA BAWA!” cewek itu melotot kepada panitia.

“WE, GITU CARAMU MEMANDANG KAMI, HAH? DITARUH DI MANA MATA KAMU?!”

“Di sini,” cewek itu menunjuk matanya dengan tatapan datar. Panitia itu kembali menyerang anak itu.

“LAGI KAMU NGGAK NGAKU, HAH?”

“WE POLISI LHO DI BAWAH!” Tiba-tiba Tor A teriak ke arah kami.

“APA MAU KALIAN?!” Tor K yang lebih pendiam daripada Tor A ikut teriak.

Aku kembali memfokuskan perhatianku ke cewek yang dikerubungin para panitia itu. “Saya nggak ada bawa itu, Kak.”

“KAK KAMU BILANG, HAH?” kelihatannya semua panitia emosi, dan para tor teriak-teriak.

“Saya nggak ada bawa itu, PANITIAAAAA!”

Huft.

“LIHAT TEMAN KALIAN, CAMPAH SEKALI.” Tor berkata kepada kami dan aku hanya diam melihat kejadian itu. Gak mungkin rasanya dia bawa-bawa benda seperti itu.

Singkat cerita, pembina OSIS sekolah berbicara di atas panggung. Katanya beliau akan mempertimbangkan siswi-siswi yang membawa benda-benda itu di dalam tasnya. Dan mudah ketebak, seorang panitia muncul sambil membawa tart dan menyanyi Happy Birthday.

Kampret emang, kita dikerjain! Dan cewek yang dituduh itu sedang ulang tahun. Keren banget dikerjainnya, dan pastinya itu berkesan bagi anak itu.

Setelah acara drama tersebut berakhir, acara selanjutnya adalah penutupan MOS. Kami dipersilakan melepas topi capil dan nama dada. Uh seneng banget, tapi masih tetap pakai tas MOS dan kartu kontrol. Gosh.

Dan, kartu kontrol masih salah as usual.

MOS #4 – Kamis, 17 Juli 2014

MOS kali ini kita hanya mengadakan PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk) ke rumah-rumah warga dan juga kerja bakti. Enaknya lagi adalah kita pulang lebih awal dari MOS resmi di hari-hari sebelumnya, yay!

Oh ya, kartu kontrolnya udah bener! ~~\o/

.

.

.

.

.

Padahal gak ganti warna kertas (pake sisa kertas yang kemarin) karena males nyari lagi.

Eh ternyata dibenerin. Kampret.

MOS #5 – Jumat, 18 Juli 2014

Kami masuk pada pagi hari seperti biasa tapi bedanya adalah bukan tor yang memimpin kami, melainkan panitia. Dan tentunya hari ini tanpa kartu kontrol.

“Tor K sama Tor A ngambul soalnya, gara-gara kalian bandel.” HAHAHA. Gak nanya.

Acara yang berlangsung hanya lomba yel-yel antar kelompok. Sempat terjadi ejek mulut antar kelompok, tapi itu hanya digunakan sebagai candaan saja. Kelompokku sedikit mengalami kesalahan saat tampil, gara-gara cowoknya nggak mau keras suaranya. -_- Tapi stay cool aja lah.

Everybody cucok!

Hmmm… cucok! 😛

Setelah semua kelompok tampil, giliran para tor yang tampil. Mereka tampil menggunakan konsep baris berbaris, tapi itu keren banget. Rapi dan serempak.

Kami pulang ke rumah pukul sebelas dan kembali ke sekolah pukul setengah tiga. Kabar gembiranya (bukan Mastin, we!) adalah kami diperbolehkan membawa tas ransel (bukan tas MOS lagi) dan membawa HP, yay! Bawaanku cukup banyak: kayu bakar lima batang, balon, dan sepuluh kaleng bekas.

Sebelum acara puncak, kami dikumpulkan di aula untuk menghabiskan waktu. Saat sudah mulai jam 7, kami semua disuruh menutup mata dalam keadaan berdiri supaya tidak mengintip.

“Yang nggak nutup mata sama ngintip, pulang-pulang matanya bintitan!” teriak para panitia. Nyumpahinnya gitu banget, Kak. -_-

Beberapa menit kemudian (sumpah, itu lama), seorang panitia berkata pada kelompok Kicaka. “Pegang pundak teman di samping kanan kalian.”

Lalu kami semua jalan pelan-pelan dengan mata tertutup (seram woi!) menuruni aula yang tentunya didampingi panitia dan MPK.

Setelah sampai di tanah yang sedikit berbatu, kami masih harus menutup mata. Jujur, waktu itu bosan sampai mataku sedikit berair.

“BUKA MATA KALIAN!”

Dan kami ada di halaman belakang. Great. Lampu di mana-mana, perlu waktu untuk menyesuaikan penglihatan waktu itu.

Kami upacara dulu, entah upacara dalam rangka apa malam-malam begitu. Lalu ada acara dihidupkannya api unggun.

“Api kita sudah menyala..”

“API KITA SUDAH MENYALA. API API API API API, API KITA SUDAH MENYALA!” Lalu diterbangkannya balon kami semua yang sudah dikumpulkan tadi. Tak lama kemudian saat upacara sudah berakhir, kami dipersilakan untuk duduk dan acara Malam Inagurasi tiba. Seorang tor muncul di atas panggung KBK dan semua tepuk tangan karena tor tersebut menjadi MC. Gimana nggak heboh? Pembawaannya pun santai, sudah ketawa-ketawa dan senyum. Beda dari hari biasanya saat jadi tor.

“Kita sambut, tarian dari Instruktur!”

Dan muncul sekitar 6 tor perempuan di atas panggung. Semua heboh, apa lagi konsepnya keren. Dan aku kembali tidak menyangka bahwa mereka yang sedang menari itu ada Tor A. Hahaha, akhirnya malam ini topeng para tor terbuka! 😀

Banyak acara malam ini. Ada teater dengan judul Ganteng-Ganteng Seringgalau, pemutaran video latihan para tor selama 3 bulan dan acara MOS 2014 yang didokumentasikan oleh PD (Panitia Dokumentasi), lalu acara selanjutnya pengumuman nominasi tor dan panitia terbaik, tergalak, tersinis, terfavorit, dan the best. Setelah acara tersebut, para tor dan panitia berkumpul di atas panggung sambil memperkenalkan diri mereka masing-masing. Berbeda dengan perkenalan di awal-awal MOS, kali ini ada bagian tambahannya.

“Nama saya [..] saya berasal dari kelas [..] mulai sekarang kalian dapat memanggil saya..” lalu tor tersebut membuka topinya, “kak [..]!”

Rasanya bebas, MOS benar-benar berakhir. Apalagi setelah acara itu, para tor menghampiri kelompoknya masing-masing. Teman-temanku yang cowok mulai mengganggu Tor A.

“Kak, senyum Indonesia, senyum Pepsodent!”

“Untuk kelompok Kicaka, baris tiga berbanjar depan saya satu, dua, tiga..” <- sumpah yang ini bikin ngakak.

“Weeee, diem nae!” Kak A hanya tertawa menanggapi teman-temanku yang cowok meniru apa yang dikatakan tor waktu MOS kemarin.

Satu kata, Malam Inagurasi untuk hari itu adalah: berkesan.

MOS #6 – Sabtu, 19 Juli 2014

Sebenarnya ini bukan acara MOS, kami semua akan melaksanakan tirta yatra ke Pura Silayukti. Berbeda dengan hari-hari sebelumnya, Kak A memimpin kami dengan senyum tanpa beban di wajahnya. Sayangnya Kak K nggak ikut acara tirta yatra.

Setelah acara tirta yatra berakhir dan kami sampai di sekolah dengan selamat, kami semua disuruh melihat pengumuman pembagian kelas di mading. Kami semua berdesak-desakan melihat daftar nama itu. Bahkan aku menerobos deretan manusia itu dengan perjuangan.

Setelah aku mencari-cari namaku dari kelas IPA 7 sampai IPA 1, akhirnya aku menemukan namaku.

Dan syukurnya bukan di jurusan IPS.

Akhirnya, masa SMA dimulai. Aku harap aku bisa mendapatkan teman baru sebaik teman di SMP. Untuk saat ini, aku masih nggak ada teman yang aku tahu di kelas itu karena teman di Kicaka pada berpencar semuanya. Tapi ya itu, aku harap aku dapat teman yang baik.

Kita tunggu dan lihat saja, apa benar masa-masa SMA adalah masa yang paling indah? 😉

..

Hai anak-anak X PMIA 2! 

PS: Ini deh, perlengkapan selama MOS aku foto. Mulai dari topi capil, tas, nama dada, dan kartu kontrol. 😛

2014-08-03 14.18.51.1

Foto di atas adalah bukti dari kartu kontrol yang warna kertasnya terus-terusan salah dan coba lihat berapa kali aku ngulang kartu kontrolnya. -_-

Buram ya? Maaf deh ya. HP jadul soalnya, hihiw. ❤

Advertisements

6 thoughts on “Jenjang Baru

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s