Menjadi Diri Sendiri Seperti Luna

Banyak pepatah ataupun motivator yang berkata bahwa menjadi diri sendiri adalah hal terbaik dan mudah yang bisa dilakukan. Ya, memang. Saya setuju dengan hal itu karena sangat cocok dengan saya. Di saat teman-teman saya yang lain sibuk memikirkan penampilan, saya cuma bisa santai dengan baju kaos dan celana jins setiap bepergian. Bukan karena apa-apa, tapi memang hal itulah yang membuat saya nyaman.

Saya sudah lumayan sering membaca novel dengan banyak tokoh yang berbeda-beda wataknya. Dari tokoh yang ambisius, rendah hati, angkuh, dan macam-macam. Semua tokoh itu dapat saya jumpai di novel-novel yang saya beli di Gramedia. Contohnya adalah seri novel terbaik (menurut saya) Harry Potter, dan karya J.K. Rowling lainnya (dengan nama pena Roberth Galbraith) berjudul The Cuckoo’s Calling dan The Silkworm. Tapi tokoh seperti Luna belum pernah saya temui sebelumnya.

DSCN1558

Siapakah Luna?

Jujur saja, dari buku pertama Harry Potter sampai buku ke-4, saya belum pernah bertemu tokoh fiksi seunik Luna. Dia tidak jaim (jaga image) seperti remaja perempuan seusianya, dan dia juga suka berimajinasi! Mungkin bisa dibilang Luna adalah tokoh fiksi favorit saya. Luna Lovegood adalah penyihir perempuan yang bersekolah di Hogwarts bersama Harry Potter dan teman-temannya. Menjadi pribadi yang aneh dan senang berimajinasi membuatnya tidak mempunyai teman yang banyak. Ya, orang lebih senang berteman dengan orang yang rasional..

Pertama kali tokoh Luna muncul adalah pada buku ke-5, Harry Potter and the Order of the Phoenix, dengan kesan pertama yang unik.  Dari sana saja saya sudah berpikir bahwa Luna Lovegood adalah pribadi yang berani untuk menjadi diri sendiri. Di saat orang-orang menyukai Daily Prophet, dia setia tetap memilih untuk membaca The Quibbler.

Luna Lovegood kalau diperhatikan memang aneh sikapnya. Saat Harry bertemu Luna di kereta api, gadis itu memberikan kesan kurang waras. Mungkin karena dia menyelipkan tongkat sihirnya di belakang telinga kirinya, atau mungkin karena dia memilih memakai kalung dari gabus botol Butterbeer, atau mungkin karena dia sedang membaca majalah dengan terbalik. (OP5 – hlm. 263)

DSCN1552

Dia unikYa, dia unik dan juga kreatif, dia mampu berkreasi tanpa peduli komentar orang lain. Dia tidak munafik karena walaupun dia seorang Ravenclaw, dia secara terang-terangan menggunakan atribut yang mencolok sebagai pendukung Gryffindor dalam pertandingan Quidditch melawan Slytherin. Dia menganggap suatu masalah bukan hal yang perlu dibesar-besarkan. Terbukti saat barangnya ada yang hilang, dia memasang brosur (sejenis pamflet) di dinding sambil bernyanyi-nyanyi. Lah, kalau saya udah panik duluan.

DSCN1554

Itu dua dari karateristik seorang Luna Lovegood yang tidak dimiliki oleh semua orang. Tapi memang kita tidak boleh menilai seseorang hanya dari luarnya saja. Seperti dalam halnya menilai seorang Luna Lovegood.

Walaupun dia sering dipanggil dengan sebutan ‘Loony’ (artinya gila), tapi dia tetap menjalani hidup kok. Iya memang dia agak berbeda dari yang lain, tetapi dia adalah murid yang pintar. Dia adalah anak asrama Ravenclaw (asrama yang dipenuhi oleh anak-anak yang memiliki kepintaran), tapi dia tetap rendah hati. Dia tidak suka pamer karena dia sangat rendah hati. Dia tetap polos dan tenang-tenang saja menjalani semuanya walaupun orang-orang suka menghinanya. Luna juga gigih dan setia kawan, dia termasuk ke dalam anggota Laskar Dumbledore (versi Inggris-nya Dumbledore’s Army) yang gemar membantu.

Sampai di buku terakhir, saya semakin terinspirasi sama Luna. Caranya dalam mendoakan orang—bukan, lebih tepatnya peri rumah—yang sudah meninggal membuat saya kagum.

“Terima kasih banyak, Dobby, karena telah membebaskanku dari gudang bawah tanah itu. Sungguh sangat tidak adil kau harus meninggal, padahal kau begitu baik dan berani. Aku akan selalu ingat apa yang kaulakukan bagi kami. Kuharap kau bahagia sekarang.” (DH7 – hlm. 635)

Itu menunjukkan bahwa dia tidak membedakan antara kaum penyihir dengan bangsa lain yang lebih rendah. Bukan cuma saya, siapapun akan senang dengan sikap orang seperti Luna yang tidak membeda-bedakan.

Sifat Luna yang agak mirip sama kepolosan saya sangat membuka jalan pikiran saya bahwa untuk menjadi diri sendiri yang berbeda dengan yang lain tidak perlu takut. Luna mengajarkan saya agar tidak perlu mendengarkan apa yang orang lain katakan karena kita yang menjalaninya, bukan mereka. Toh, yang penting kita tidak berbuat salah dan merugikan, kita hanya sedang dalam proses mencari zona nyaman masing-masing. 🙂 *

*) Artikel ini diikutsertakan dalam Gramedia Blogger Competition November 2015.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s