Bali, Pulau Tercinta yang Kaya Budaya

Tinggal di negara Indonesia yang terdiri dari banyak pulau dan suku menjadi kebanggaan tersendiri bagi orang-orang yang sudah tahu bagaimana indahnya menyatukan banyaknya perbedaan. Saya pun merasakan indahnya keberagaman yang ada di Indonesia sehingga membuat diri saya menjadi pribadi yang memiliki sikap tenggang rasa. Saya adalah salah seorang warga negara Indonesia yang berasal dari Bali. Saya lahir di Bali, bahkan hidup dan tinggal di Bali sampai saat tulisan ini dibuat, atau mungkin selama saya masih hidup. Lahir dan tinggal di Pulau Bali yang dielu-elukan para wisatawan non domestik maupun domestik menjadi kebanggaan tersendiri bagi saya. Bukan karena apa, tapi saya juga mengakui bahwa Bali mempunyai daya tarik tersendiri bagi orang yang melihatnya, entah melihat keindahan Bali melalui internet, cerita orang lain yang sudah pernah mengunjungi Bali, atau bahkan pengalaman langsung mengunjungi pulau cantik ini. Itu sudah terbukti, karena pernah suatu waktu saat berada di luar Bali, saya sangat merindukan suasana sehari-hari di Bali. Bali tidak hanya melulu soal pantainya yang indah, tempat yang banyak bule-bule, tapi Bali memiliki banyak sekali budaya yang wajib dijaga dari pengaruh luar. Keindahan Bali yang sebagian besar terdiri dari unsur seni memang tidak henti-hentinya dapat saya kagumi.

1. Tempat Ibadah

Jika kalian pernah berkunjung atau akan berkunjung ke Bali, mayoritas penduduk yang tinggal di Bali memeluk agama Hindu yang merupakan agama tertua karena merupakan agama pertama yang masuk di Indonesia. Ciri khas dari salam masyarakat Hindu di Bali ketika bertemu dengan seseorang adalah “Om Swastiastu” yang bermakna semoga segala yang kita kerjakan berjalan dengan baik-baik saja.

‘Pulau Seribu Pura’ adalah nama lain dari Pulau Bali, begitu pula dengan ‘Pulau Dewata’. Tidak heran, karena Pulau Bali adalah satu-satunya pulau di Indonesia yang memiliki banyak sekali pura. Pura adalah tempat ibadah untuk umat Hindu. Salah satu pura yang paling terkenal sekaligus menjadi pura terbesar di Bali adalah Pura Besakih. Pura Besakih memiliki julukan ‘The Mother of Temple’ bukan karena dari luas ataupun besar pura tersebut. Dijuluki seperti itu karena semua umat Hindu, baik dari kalangan berkasta (Ida Bagus/Ida Ayu, Cokorda, Anak Agung, Gusti) maupun yang tidak berkasta, dapat bersembahyang di Pura Besakih sesuai dengan pura kawitan atau padharman. Pura Kawitan/padharman adalah tempat memuja roh suci leluhur umat Hindu sesuai garis keturunan.

Istimewanya juga yaitu Pura Besakih berada di kaki Gunung Agung yang merupakan gunung tertinggi di Bali. Suasana yang sejuk dan penuh dengan makna simbolis membuat Pura Besakih banyak dikunjungi, tidak hanya oleh masyrakat Hindu yang ingin sembahyang tetapi juga oleh wisatawan domesting maupun non domestik.

2. Nyepi

Teridiri dari 8 kabupaten dan 1 ibu kota, Bali menjadi pulau yang aman dan tentram bagi masyarakat yang tinggal di sini. Apalagi dengan salah satu perayaan Tahun Baru Saka, Nyepi, yang dilakukan dengan hari yang penuh dengan ketenangan setahun sekali membuat Bali semakin unik. Sehari sebelum Nyepi dilaksanakan, terdapat upacara pengerupakan yang dilakukan untuk mengusir roh-roh jahat agar upacara Nyepi dapat dilakukan dengan baik. Pada saat pengerupukan, Ogoh-ogoh yang merupakan salah satu kebudayaan Bali dikeluarkan untuk diarak keliling suatu tempat/lingkungan.

Ogoh-ogoh adalah salah satu budaya Bali yang paling saya kagumi dan paling saya tunggu-tunggu kemunculannya. Mengapa? Ogoh-ogoh merupakan budaya yang sulit ditinggali oleh masyarakat karena dapat menciptakan rasa kekeluargaan dan juga kreatifitas para anak muda dalam pembuatannya. Maka budaya membuat Ogoh-ogoh sebelum Nyepi wajib dilestarikan. Dilakukan selama satu hari, Nyepi memiliki empat pantangan yang tidak boleh dilakukan. Empat pantangan tersebut dinamakan Catur Brata Penyepian. Ketika keempat pantangan tersebut dihindari maka Nyepi dapat dikatakan berjalan dengan baik dan sukses.

3. Kesenian

Seperti yang dikenal masyarakat Indonesia, kesenian Bali yang terkenal yaitu tari-tariannya. Tari-tari di Bali tidak sekadar ditarikan begitu saja, namun dibagi lagi menjadi tiga jenis sesuai dengan fungsinya yaitu tari walibebali, dan balih-balihan. Tari wali merupakan jenis tari Bali yang sifatnya sakral karena dipersembahkan untuk dewa/dewi yang ada di dalam pura. Contoh tari wali yang terkenal yaitu Tari Barong dan Tari Rejang. Tari bebali yaitu tari Bali yang dipersembahkan bersifat semi sakral. Artinya dapat dipersembahkan sebagai tari sakral dalam sebuah upacara maupun dapat sebagai hiburan. Contoh dari tari bebali yaitu Tari Gambuh. Tari balih-balihan yaitu tari Bali yang memiliki fungsi sebagai hiburan karena sifatnya yang non-religius (tidak sakral), contoh tari balih-balihan yaitu Tari Kecak dan Tari Janger.

Sudah dapat dibuktikan bahwa tari Bali sangat beragam jenisnya. Apalagi dengan tarian yang ada di seluruh daerah di Indonesia. Sebagai warga Indonesia, menurut saya tarian yang berasal dari negara kita harus jaga dan lestarikan. Jangan sampai biarkan negara lain mengklaim bahwa tarian-tarian tersebut berasal dari negaranya.

4. Ngaben

Bali cukup terkenal dengan budaya kremasi pada jenazah. Upacara kremasi di Bali dikenal dengan sebutan ngaben. Sebelum dilakukan ngaben, terlebih dahulu dilakukan serangkaian upacara yaitu seperti ngulapinnyiramin, dll. Hal itu bertujuan agar roh yang akan diabenkan benar-benar dalam keadaan bersih dan damai. Kemudian jenazah yang sudah melewati serangkaian upacara tersebut akan ditempatkan dalam sebuah peti. Peti tersebut kemudian akan dinaikkan ke sebuah tempat berupa menara yang dinamakan Bade/Wadah, atau kadang-kadang masyarakat dapat menggunakan Pepaga yang lebih sederhana.

Sampul Majalah Gedong

Wadah – sumber gambar

Wadah tersebut kemudian diarak bersama-sama menuju setra atau kuburan setempat. Kemudian jenazah akan diupacarai yang selanjutnya siap untuk dibakar bersama api.

Kurang lebih setelah satu jam maka abu yang tersisa akan dikumpulkan untuk dibuang ke laut. Abu-abu yang terkumpul dinamakan sekah, yang nantinya akan dibuang ke laut. Mungkin ada yang bertanya, kenapa kok harus dibuang ke laut? Iya, karena laut adalah simbol sebagai jalan menuju rumah Tuhan. Makanya saat berada di sekitar laut, kita harus menjaga sikap, begitu pula jika sedang berada di gunung. Saat di laut inilah keluarga yang ditinggalkan akan berdoa di pura yang terdapat di laut (Pura Segara).

Sebenarnya masih sangat banyak budaya yang ada di Bali. Tetapi yang paling banyak dikenal oleh masyarakat luas adalah yang sudah saya sebutkan di atas. Beberapa budaya yang ada di Bali contohnya yaitu Omed-omedan yang dilakukan setelah upacara Nyepi oleh masyarakat daerah Sesetan-Denpasar, upacara potong gigi yang dilakukan umat Hindu jika sudah remaja, dan masih banyak lagi. Kesenian yang di Bali membuat Bali memiliki keindahan yang tak ternilai. Ukir-ukiran yang terdapat pada gapura, misalnya. Itu sangat indah menurut saya, dan juga membutuhkan keahlian khusus dalam pembuatannya.

Bali juga memiliki pakaian khas yang digunakan dalam upacara-upacara tertentu. Tampilannya juga pastinya sudah banyak yang tahu karena memang sangat khas dari Bali. Tetapi baru-baru ini yang dilestarikan oleh masyarakat adalah menggunakan pakaian berupa endek setiap hari Jumat. Di sekolah-sekolah yang ada di Denpasar sebagian besar sudah memiliki seragam endek, begitu juga dengan di sekolah saya, hehe. Kain endek adalah salah satu ciri khas kain buatan hasil karya tangan orang Bali, tetapi berbeda dengan batik walaupun sekilas mirip.

2016-02-28 10.55.42

Bali Saat Ini

Pulau Bali sampai sekarang masih sering dikunjungi. Apalagi jika hari-hari besar, seperti liburan sekolah, perayaan menyambut Tahun Baru,  Hari Natal, dan masih banyak lagi. Tapi yang jelas, Bali tidak pernah sepi pengunjung (kecuali saat Nyepi).

Banyaknya orang yang berkunjung ke Bali hendaknya membuat masyarakat Bali lebih bersifat waspada. Waspada di sini dalam artian tidak boleh terlalu terbuka dalam menerima apapun dari orang asing seperti budayanya, kita seharusnya melihat dari segala sudut pandang, apakah hal tersebut memiliki dampak positif atau negatif. Tapi walaupun bersikap waspada, kita masih tetap harus menyambut para pengunjung dengan senyum yang ramah kok, jangan malah dijutekkin. Karena salah satu alasan wisatawan asing datang ke Bali selain karena keindahannya, juga karena penduduk Bali murah senyum. Budaya di Bali yang sangat banyak hendaknya tidak ditinggalkan yang kemudian digantikan oleh budaya asing yang tidak sesuai dengan nilai-nilai luhur yang sudah ada di Bali dan Indonesia. Makanya sekolah-sekolah di Bali tetap mengadakan mata pelajaran Bahasa Bali agar bahasa daerah tersebut tidak punah dan digantikan oleh bahasa asing.

Semoga penduduk Bali selalu menjaga kelestarian Bali, budaya Bali, dan tempat-tempat di Bali. Mulai dari hal kecil saja, sampah misalnya. Kita bisa coba dengan membuang sampah di tempat sampah, walaupun sederhana tapi saya tahu itu sangat berarti. Jadi, anak muda di Bali tetap bisa kok jalan-jalan bersama teman-teman lalu upload foto di sosial media dengan hashtag  #MaiMelali, #JaenIdupdiBali, dan masih banyak lagi hashtag serupa, tanpa harus mengotori atau merusak tempat-tempat yang memiliki nilai keindahan di Bali. Semoga Bali dipimpin oleh orang-orang yang memang memiliki visi dan misi memajukan Bali tanpa harus melunturkan budaya yang sudah diwariskan turun-temurun dan merusak keindahan alam Bali yang sangat alami ini.*

*) Artikel ini diikutsertakan dalam Gramedia Blogger Competition Februari 2016.

Advertisements

One thought on “Bali, Pulau Tercinta yang Kaya Budaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s