Cemburu yang Terulang

Terakhir kali saya merasa cemburu kayaknya udah lama. Semua orang kayaknya pernah cemburu, deh. Cemburu bukan cuma soal orang yang kita cinta, bisa juga cemburu sama musuh bebuyutan, bisa juga cemburu sama orang yang lebih hebat daripada kita, dan lain-lain. Intinya, saya gak perlu menjelaskan apa definisi cemburu menurut KBBI, kan?

Saya peringatkan kalau tulisan ini tidak penting. Isinya hanya curhatan pribadi yang membuat dahi Anda berkerut. Terima kasih kalau kalian memaksa ingin lanjut membaca.

Oke.

Saya pernah cemburu masalah percintaan, tapi sudah lupa bagaimana rasanya. Lagi pula itu sudah lama berlalu. Saya pernah cemburu sama orang yang sangat beruntung, ya… tragedi mencari sekolah itu. Tau lah yang mana. Ya kalau gak tahu, maaf. Saya pernah cemburu sama orang-orang yang bisa nonton konser Jay Chou tahun 2013 di Jakarta. Waktu itu saya sedih meratapi diri yang hanya sebagai bocah SMP, hahaha.

Dan kejadian itu kembali terulang.

Di tahun ini.

Di tahun 2017.

Selain Jay Chou, saya senang mendengarkan Coldplay. Kalau lagu-lagu Jay Chou saya nggak terlalu mendalami, karena saya nggak ngerti dia ngomong apa. Lirik lagunya pun saya nggak tau apa. Kalau misalnya saya lagi mandi dan kebetulan lagu Jay Chou yang berputar (kebiasaan buruk saya adalah membawa HP saat di kamar mandi), saya ikut-ikut saja bernyanyi. Liriknya juga ngasal, wo syang sying so co ni na….. blablabla. Hancur pokoknya, hahaha. Tapi herannya, saya tetep suka beberapa lagu Jay Chou. Kalau Coldplay lirik lagunya gampang dicari di internet. Dibacanya juga gak sesusah bahasa Mandarin. Walaupun jujur saja saya susah menghapal lagu bahasa Inggris, tapi lagu Coldplay lebih gampang diikuti lah daripada lagunya Jay Chou. Ini bukannya saya membanding-bandingkan mereka ya, ini soal masalah keterbatasan saya memahami bahasa. 😀 Jadi intinya, kalau lagu Coldpay berputar, saya nyanyinya gak terlalu ngasal lah.

Saya pernah menyinggung dulu soal lagu-lagu Coldplay favorit (yang saat ini pastinya mengalami perubahan tapi tidak saya edit), tapi belum menyinggung gimana saya bisa suka Coldplay.

Awal mula saya tahu Coldplay adalah saat duduk di bangku kelas IX.

Itu sekitar tahun 2013.

Oke, itu emang TELAT BANGET teman-teman. Saya merasa bocah di antara senior-senior yang udah suka Coldplay dari tahun 2000-an. 😦

Bisa dibilang saya ketemu lagunya Coldplay karena dulu saya pernah berada pada fase di mana sering galau dan patah hati. Maafkan fakta yang menjijikkan itu. Sekarang saat saya mengingat masa-masa itu, saya merasa sedikit heran sih kadang-kadang. Sepatah hati itukah saya dulu? Ah, tapi saya sih bersyukur juga, kenang-kenangan. Bisa dijadikan pelajaran hidup. Eh, sok bijak kali. Nah, di fase-fase itulah saya mencari lagu yang sesuai dengan isi hati. Emang gitu kali ya cewek yang lagi galau? Bukannya mencari solusi yang benar agar tidak semakin galau, eh malahan mencari sesuatu yang sesuai suasana hati yang ujung-ujungnya nggak mengobati. Cacat logika kayaknya dulu saya, hahaha. Tapi, karena itu saya mendengarkan lagu Coldplay. Kayaknya dulu saya langsung dengerin “The Scientist” dan “Fix You”.

Ya karena lagunya keenakan, akhirnya saya mulai cari-cari tentang Coldplay, berharap ada lagi lagu galau dan sejenisnya. Sampai sekarang, saya udah lumayan tahu lagu-lagu Coldplay. Bukan cuma lagu populernya yang berjudul “Fix You”, “The Scientist”, dan “Yellow” aja. (Sombong banget yak?) Nah karena itu, saya punya mimpi untuk bisa menonton konser mereka secara live. Coldplay ini salah satu band yang kalau saya lihat lewat YouTube konsernya keren banget. Kayak ada sesuatu yang ‘wah’ di dalam konser mereka. Mereka nggak mau menyia-nyiakan fans-fansnya dengan menampilkan konser yang nggak berkualitas. Makanya konser mereka selalu penuh dengan totalitas. Cuma dengan hal itu saya ingin menonton konser mereka. Saya ingin tahu atmosfernya gimana. Gimana kita melihat cahaya-cahaya, dentuman musik khas Coldplay, teriak-teriak, nyanyi, sampai nangis-nangis mungkin. Saya ingin sekali menonton mereka secara langsung. Nggak tahu diri juga sih, saya sekarang kan masih sekolah, nggak mungkin minta uang ke orang tua dengan angka nol sebanyak enam digit untuk nonton konser. Mereka juga pasti nggak ngerti Coldplay itu sebagus apa. Mereka juga pasti nggak akan mengizinkan saya nonton sendirian. Iya, di keluarga saya kayaknya nggak ada yang suka Coldplay, jadi saya mau nonton sama siapa coba? Intinya, saya gak mungkin bisa nonton Coldplay kalau masih berstatus sebagai siswa. Karena saya belum cukup dewasa di mata mereka. Dan belum punya tabungan sebanyak itu.

Eh, di tengah mimpi yang terbentuk dengan indahnya, saya baca kalau Coldplay mengadakan tur album terbaru mereka yang berjudul A Head Full of Dreams. Biasa banget sih, tapi yang nggak biasa adalah munculnya benua Asia yang akan didatangi Coldplay. Tapi belum dibilang negara apa saja yang akan didatangi. Nah, terus fans Coldplay di Indonesia udah berharap banget supaya Coldplay melirik Indonesia kan, eh… tapi ending-nya kayaknya kalian udah tau deh.

Iya, Coldplay tidak mengadakan konser di Indonesia.

Coldplay memilih Singapura. Nggak ketinggalan sih sama beberapa negara di benua Asia yang lain kayak Jepang, Thailand, dll. Eh, Singapura deket banget tuh kan? Ya gak banget-banget juga sih. Cuma Singapura kayaknya tinggal ngesot udah deh nyampe di kawasan Indonesia, tapi mungkin waktu milih tempat konser ada awan besar yang menutupi wilayah Indonesia. Mungkin itu sebabnya Coldplay nggak lihat ada sebuah negara bernama Indonesia yang rakyatnya lumayan banyak menantikan Coldplay konser di Indonesia. GAK LAH NGACO. Pasti ada pertimbangan tersendiri kenapa Coldplay nggak memilih konser di Indonesia. Mungkin mereka nggak percaya sama keamanan di Indonesia. Apalagi di Jakarta. Tau lah, banyak aksi-aksi damai yang mulai muncul. Lah, tapi kok mereka malah takut, katanya damai? Sudah, sudah, nanti saya terkena tjidoek.

Tapi kalau Coldplay konser di Indonesia, memangnya saya akan menonton mereka?

AQU TERPELATUQUE MEMBACA PERTANYAAN NISTA ITU.

Ya nggak lah! Uangnya dari mana?

Nah, karena itulah saya mengatakan peristiwa kecemburuan di tahun 2013 itu kembali terulang di tahun 2017.

Sebenernya saya nggak bakalan sakit hati jika nggak membaca di beberapa artikel yang mengatakan bahwa A Head Full of Dreams adalah album terakhir mereka. Oh… ayolah. Rasanya kayak diputusin pacar. Nggak sih, pokoknya rasanya itu sedih banget. Saya harap sih itu cuma hoax. Iya lah saya harap itu cuma hoax, kalau sampai itu beneran, saya nggak akan bisa nonton mereka live dong? Jadi saya bener-bener berharap sih kalau Coldplay gak bubar. Kalau mereka mengadakan konser beberapa tahun lagi di saat Chris Martin sudah menua juga gak apa-apa. Saya suka mereka karena lagunya ya. Saya suka suaranya. Kalau soal ketampanan, itu saya anggap bonus sih. Hehehe.

Ya, bisa dipastikan malam ini saya hanya bisa berkaca-kaca melihat Instagram yang dipenuhi stories tentang nonton Coldplay di Singapura.

Tapi saya heran, bagaimana sebuah musik yang mengalun lewat video bisa membuat orang yang mendengarnya begitu emosional? Kok bisa sih hanya dengan mendengar dan melihat video Chris dan kawan-kawan di konsernya bisa bikin merinding, berkaca-kaca, bahkan kadang sampai air mata menetes?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s