Nonton Tapi Belajar

Halo!

Sebelumnya, mungkin lo bakal ngerasa agak aneh lihat tulisan gue kali ini karena gue menggunakan kata ganti orang pertama maupun kedua khas anak Jakarta, yaitu: gue dan lo. Kalau lo yang udah lama tinggal di Jakarta mungkin gak masalah, tapi kalau ternyata lo yang baca tulisan ini orang yang gak pernah tinggal lama di Jakarta… mungkin aja rasanya aneh. Apalagi gue yang emang sebenarnya nggak tinggal di Jakarta, haha.

Ya sudahlah, cukup segitu saja tidak usah diperpanjang lagi ya. Gaya tulisan gue mungkin tetep sama, cuma kata gantinya aja yang diubah. Continue reading

Jangan Kalah Sebelum Perang

Halo, semuanya yang lagi baca tulisan ini! Hahaha sekalinya saya nulis, eh judulnya kayak gitu. Sok bijak banget memang. Hehehe, dan kalau dihitung-hitung ternyata bentar lagi udah tahun 2017 ya? Sedih saya soalnya makin deket sama SBMPTN :'(. Kalian yang udah kelas XII dan pingin kuliah di PTN pasti tahu rasanya seperti apa, hahaha. Tapi bukan itu sih inti tulisan saya kali ini. Sebelum ke inti dari tulisan ini, saya akan kasih sejenis pemanasan dulu mungkin? Hahaha. Nggak-nggak, saya serius.

Jadi, saya sering banget mendengar kalimat yang berbunyi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Iya… kalau dipikir-pikir memang lebih baik terlambat sih daripada nggak sama sekali. Contohnya kayak ibu-ibu yang baru belajar mengendarai sepeda motor. Dengan usia yang bisa dibilang sudah tidak muda lagi, tapi toh ujung-ujungnya mereka bisa lancar berkendara. Ya walaupun saya masih sering ketemu ibu-ibu yang agak ngawur naik motornya di jalan. Nggak jarang ibu-ibu pernah pasang sign ke kanan tapi nyatanya belok kiri. Kalau yang ini ngeselin banget sih emang, terpaksa kalau ada ibu-ibu di depan maka saya harus berpikir dua kali kalau mau nyalip. Tapi ibu-ibu yang kayak gitu levelnya udah di atas ibu-ibu yang nggak bisa mengendarai sepeda motor sama sekali, kan? Continue reading

Bali, Pulau Tercinta yang Kaya Budaya

Tinggal di negara Indonesia yang terdiri dari banyak pulau dan suku menjadi kebanggaan tersendiri bagi orang-orang yang sudah tahu bagaimana indahnya menyatukan banyaknya perbedaan. Saya pun merasakan indahnya keberagaman yang ada di Indonesia sehingga membuat diri saya menjadi pribadi yang memiliki sikap tenggang rasa. Saya adalah salah seorang warga negara Indonesia yang berasal dari Bali. Saya lahir di Bali, bahkan hidup dan tinggal di Bali sampai saat tulisan ini dibuat, atau mungkin selama saya masih hidup. Lahir dan tinggal di Pulau Bali yang dielu-elukan para wisatawan non domestik maupun domestik menjadi kebanggaan tersendiri bagi saya. Bukan karena apa, tapi saya juga mengakui bahwa Bali mempunyai daya tarik tersendiri bagi orang yang melihatnya, entah melihat keindahan Bali melalui internet, cerita orang lain yang sudah pernah mengunjungi Bali, atau bahkan pengalaman langsung mengunjungi pulau cantik ini. Itu sudah terbukti, karena pernah suatu waktu saat berada di luar Bali, saya sangat merindukan suasana sehari-hari di Bali. Bali tidak hanya melulu soal pantainya yang indah, tempat yang banyak bule-bule, tapi Bali memiliki banyak sekali budaya yang wajib dijaga dari pengaruh luar. Keindahan Bali yang sebagian besar terdiri dari unsur seni memang tidak henti-hentinya dapat saya kagumi. Continue reading